Opini

Peduli Lingkungan

Oleh: Markandidus Nahak
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang

KUPANG-JARRAKPOSKUPANG.COM-
Pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya merupakan salah satu persoalan yang menggerogoti lingkungan hidup.

Karena itu penulis mencoba melihat persoalan ini secara lebih dalam dengan mengumpulkan beberapa refrensi terkait yang menurut penulis cukup untuk membedah persoalan ini.

Dalam proses pencarian refrensi penulis menemukan Pidato Kebudayaan Mochtar Lubis pada tahun 1977 yang dikutip oleh Kardinal Ignatius Suharyo dalam artikelnya yang berjudul Manusia Indonesia.

Pada pidato kebudayaan, “Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungjawaban)” di Taman Ismail Marzuki, Mochtar Lubis menyebut enam ciri orang Indonesia, yaitu munafik, enggan bertanggung jawab, feodal, percaya takhayul, artistik, dan lemah karakternya.

Berdasarkan enam ciri orang Indonesia yang digambarkan oleh Mochtar Lubis kita dapat menggali akar dari persoalan pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya.

Dari enam ciri orang Indonesia itu, urutan yang kedua, yaitu enggan bertanggung jawab merupakan faktor yang memiliki garis lurus dengan tindakan pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya.

Artinya sikap enggan bertanggung jawab yang dimiliki oleh orang Indonesia itulah yang membuat mereka membuang sampah secara tidak bertanggung jawab.

Baca Juga :  TPDI: Jusuf Kalla Melontarkan Pernyataan Rasis Berpotensi Merusak Persatuan

Jadi pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya sebenarnya merupakan representasi dari kepribadian yang enggan bertanggung jawab.

Gambaran kepribadian seperti ini menunjukkan orang Indonnesia memiliki integritas yang cacat, yang tidak memiliki keteguhan prinsip, yang kepribadiannya terpecah-pecah.

Pertanyaannya apakah sikap enggan bertanggung jawab yang diuraikan secara individualistik ini dapat kita transformasikan ke bentuk yang mengungkapkan perhatian atas kolektivitas, supaya kita dapat secara memadai membangun kesadaran akan perawatan lingkungan hidup? .

Salah satu cara untuk keluar dari krisis tersebut dibutuhkan perubahan radikal dalam pemahaman manusia, dalam cara berpikir dan penilaian manusia.

Sebuah perubahan paradigma mengenai cara berpikir tentang hakikat alam semesta dan perubahan radikal dalam perilaku manusia terhadap alam semesta.

Fritjof Capra menawarkan sebuah paradigma baru yang lebih sistemis-organis dan holistik-ekologis.Cara pandang baru tersebut tidak lain adalah cara pandang yang memahami alam semesta sebagai sebuah sistem, sebuah organisme yang dilihat secara holistik.

Dengan cara pandang ini maka alam semesta ditempatkan pada posisi yang tidak terdominasi oleh manusia dan lahir sikap hormat serta tanggung jawab sebagai tuntutan etis yang seharusnya dipenuhi oleh manusia yang merupakan rekan kehidupan dalam relasinya dengan alam.

Baca Juga :  MELIHAT CORONA VIRUS DARI KACAMATA HUKUM

Dengan demikian terciptalah perilaku yang bermuatan moralitas, yang lebih responsif dalam kaitannya dengan lingkungan hidup.

Paradigma yang juga penting adalah ecoliteracy atau yang lebih mudah disebut dengan melek ekologi yang artinya sebuah kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan hidup, karenanya mampu dan serius dalam mengelola lingkungan hidup.

Dengan ecoliteracy ini kita mendambakan masa depan umat manusia, masa depan komunitas manusia dan masa depan planet bumi ini. Jadi orang yang ber-ecoliteracy adalah orang yang telah memahami prinsip-prinsip ekologi dan hidup sesuai prinsip-prinsip ekologi tersebut dalam mengelola dan membangun bersama kehidupan umat manusia.

Dengan paradigma berpikir seperti yang telah diuraikan di atas maka kita dapat mengalami sublimasi kesadaran, yaitu proses mengarahkan energi naluriah dari hal-hal rendah (enggan bertanggung jawab) ke hal-hal yang lebih tinggi (peduli dan membangun lingkungan hidup).

Inilah kesadaran diri yang mengutamakan kolektivitas yang berakibat pada teratasinya persoalan pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya. Ini sekaligus mengajak manusia untuk kembali menghuni bumi tempat kehidupan dengan tanggung jawa yang penuh terhadap lingkungan hidup.

Editor: Francelino

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button