Opini

Humanisme Kaum Perempuan & Kesetaraan Gender di Era Milenial

Humanisme Kaum Perempuan & Kesetaraan Gender di Era Milenial

OLEH: Agustinus Firginus Kea (Rohaniwan dan Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang)

“Humanisme Kaum Perempuan Dan Kesetaraan Gender di Era Milenial Dalam Perspektif Gereja Katolik”

KUPANG-JARRAKPOSKUPANG.COM
Manusia adalah makhluk yang mampu mengartikan dan juga dapat diartikan seturut daya inteligibelnya.

Pada dasarnya yang menjadi suatu nilai fundamental bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki kemampuan dan kewajiban (dalam suatu batas-batas tertentu) untuk menyelidiki arti yang benar dalam hidupnya.

Manusia seturut keberadaanya, Ia memikirkan dan bertanya tentang segala hal yang berkaitan dengan persoalan dan fenomena yang dialami dalam hidupnya.

Manusia dalam hidupnya adalah Homo Mensura, manusia menjadi ukuran atau kriteria segala sesuatu. Manusia berada pada posisi yang begitu sentral dalam aspek dan fenomena kehidupan.

Manusia hadir dalam performa kehidupan yang menuntut integritas diri dan juga yang menjadi nilai fundamental adalah ukuran manusia sebagai humanisme itu sendiri.

Manusia sebagai Humanisme, berarti manusia menganggap dirinya sebagai individu yang rasional dan nilai itulah hadir sebagai nilai yang paling tinggi dan itu merupakan sumber nilai terakhir.

Nilai fundamental manusia sebagai individu yang Humanisme, merupakan suatu ukuran atau pun takaran yang berkaitan dengan integritas personal manusia dalam kaitannya dengan kehidupan sosialnya.

Perspektif Kitab Suci tentang wanita dalam terang Injil Yohanes 8:1-11

Pendasaran Kitab Suci tentang Yesus dan perempuan yang berzina merupakan suatu kisah dalam injil Yohanes yang sangat relevan untuk dikaitkan dengan kehidupan kaum perempuan. Penginjil Yohanes secara sederhana menuliskan tentang perseteruan antara Yesus dan Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Dalam pandangan Ahli-ahli taurat dan orang-orang farisi tindakan yang dilakukan oleh perempuan yang berzina itu, haruslah ditetapkan hukum yang sesuai dengan ketetapan dan peraturan kebudayaan orang Yahudi.

Kehadiran Ahli-ahli taurat dan orang-orang Farisi merupakan kehadiran yang nyatanya atas dasar kontroversial dengan Yesus atas persoalan yang dilakukan oleh wanita tersebut.

Sangat jelas bahawa tindakan mereka merupakan suatu tindakan diskriminatif yang dengan sewenang-wenang mengadili perempuan berzina itu di hadapan Yesus.

Perempuan yang berzina itu menyadari bahwa dirinya paling berdosa dan martabat serta harga dirinya direndahkan kerana perbuatannya.

Yesus dalam kesederhanaan merendahkan diri di hadapan perempuan itu dengan membungkuk di hadapan Perempuan itu.

Tuhan hadir sebagai orang yang sederhana yang mempunyai posisi yang sejajar dengan perempuan berzina itu. Suatu pendasaran dan pesan kitab suci yang sangat jelas bahawa, Yesus hadir bukan sebagai orang yang mengadili tetapi, Ia hadir sebagai pribadi yang menghormati dan menghargai perempuan yang berbuat zina itu.

Baca Juga :  Kontroversi Pasar Wairkoja Di Sikka Ini Tawaran Solusi Mahasiswa.

Bagi Yesus perempuan yang berzina itu membutuhkan sebuah jalan keluar atau solusi yang menghantar dirinya kepada suatu pertobatan akan kesalahannya. Yesus menyadari bahwa perempuan itu yang berzina itu merupakan personal yang rendah hati dan nilai fundamental yang ditempuhnya adalah pertobatan dan rekonsiliasi.

Perempuan menyadari kesalahan dan berjuang untuk bertobat. Eksistensi martabat kaum perempuan dalam pandangan Gereja Katolik Gereja sangat menjunjung tinggi nilai kesamaan martabat kaum umat beriman baik laki-laki maupun perempuan.

Keterlibatan dalam panggilan hidup menggereja telah menghadirkan peran kaum wanita di dalamnya.

Gereja Katolik melihat perempuan sebagai yang satu dan sama yang merupakan ciptaan Tuhan yang teramat mulia.

Gereja katolik yang sejalan dengan pandangan moralitas manusia, sangatlah jelas bahwa martabat kaum wanita mempunyai posisi dan status yang sama dengan kaum pria.

Pria dan wanita sama-sama merupakan ciptaan Tuhan. Jelas bahwa “kepenuhan waktu” menyatakan keistimewaan martabat”wanita”.

Martabat ini berupa pengangkatan adikodrati kepada persekutuan dengan Allah dalam Yesus Kristus, yang menentukan tujuan akhir keberadaan setiap orang, baik dibumi maupun di keabadiaan (Surat Apostolik Sri Paus Yohanes Paulus II tentang Martabat Kaum Wanita, Mulieris Dignatem no. 4).

Wanita yang dalam Gereja Katolik didasari oleh teladan hidup Maria sebagai Ibu yang sejati seutuhnya merupakan, Ia yang menghadirkan kemanusiaan yang menjadi milik semua orang, baik pria maupun wanita.

Bagi Gereja Katolik konsepsi martabat kaum wanita terpenuhi dalam Maria sebagai Ibunda Yesus Kristus.

Teladan hidup dan tanggung jawab Maria merupakan bukti kesetaraan martabat kaum perempuan yang sejatinya sama dengan kaum pria.

Gereja Katolik memberikan pembebasan kesetaraan gender dalam kehidupan manusia. Suatu sikap optimisme dalam gereja Katolik bahwa, nyatanya ada ketidakadilan dalam kehidupan manusia.

Kaum perempuan masih dipandang dengan sebelah mata pengaruh paradigma pada kebudayaan tertentu yang melihat bahwa perempuan berada posisi yang lebih rendah dari kaum pria.

Dalam gereja Katolik jalan keluar yang ditempuh adalah dengan menghindari beberapa sikap yang menunjukan ketidaksetaraan gender.

Baca Juga :  Krisis Covid-19: Manusia Perlu Introspeksi Diri Untuk Mencapai Kesadaran Dalam Diri

Sikap yang perlu dihindari adalah androsentrisme dan patriarki. Androsentrisme adalah cara berpikir yang berpandangan bahwa laki-laki lebih tinggi atau utama dari perempuan.

Hal merupakan suatu persoalan fundamental yang berasal dari rasionalitas manusia. Bagaimana Manusia menggunakan rasionya untuk memaknai keberadaan kaum perempuan dalam hidupnya.

Kedua, patriarki adalah pandangan yang dipengaruhi oleh struktur sosial masyarakat yang terbentuk sedemikian rupa sehingga kekuasaan selalu ada dalam tangan kaum laki-laki yang lebih mendominasi.

Hal merupakan persoalan yang dipengaruhi oleh paradigma kebudayaan atau kultural yang telah melebur dalam nilai moral manusia.

Berhadapan dengan persoalan dan pengaruh yang ada Gereja Katolik diterangi oleh Iman Kristus dan keteladanan Bunda Maria mengupayakan tindakan kolaborasi aktif untuk menyatukan laki-laki dan perempuan, sambil mengakui adanya perbedaan atau kekhasan masing-masing.

Dalam terang Kitab Hukum Kanonik bahwa “Ada kesamaan sejati dalam martabat dan kegiatan, dengan itu semua sesuai dengan kedudukan khas dan tugas masing-masing, bekerja sama membangun Tubuh Kristus” (Kanon 208. Pernyataan dalam kanon 208 mendasari eksistensi semua umat beriman, laki-laki dan perempuan mendapat posisi dan bagian yang sama dalam kegiatan hidup menggereja.

Humanisme dan Kesetaraan Gender kaum perempuan dalam relevansinya di era milenial Integritas dalam diri manusia merupakan perwujudan dari nilai fundamental yang terkandung dalam semangat humanisme.

Manusia diukur dalam integritas dirinya yang mengikat dengan sesamanya dalam kehidupan sosial masyarakat. Dalam perubahan yang terjadi diera milenial ini Humanisme sering di konektifitas dengan kesetaraan gender dalam kehidupan manusia.

Gender merupakan pembedaan dalam hal yang berkaitan dengan peran, sifat, sikap, dan perilaku yang tumbuh dan berkembanag dalam masyarakat.

Hal yang fundamen dari kesetaraan gender adalah suatu perihal yang merujuk kepada suatu keadaan setara antara laki-laki dan perempuan dalam pemenuhan hak dan kewajiban.

Kesetaraan Gender sangat berkaitan erat dengan nilai humanisme yang ada dan melekat dalam diri setiap manusia.

Dalam kehidupan di era milenial kesetaraan gender harus dijadikan hal mendasar yang disosialisasikan bagi kehidupan setiap manusia.

Kesetaraan gender merupakan salah satu hak asasi kita sebagai manusia sebagaimana yang merupakan hal dasar untuk menghargai martabat sesama manusia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button