Nasional

ParTha Dukung Kepolisian Bongkar Sindikat Prostitusi Online Yang Melibatkan Artis (CA)

ParTha Dukung Kepolisian Bongkar Sindikat Prostitusi Online Yang Melibatkan Artis (CA)

JAKARTA-JARRAKPOSKUPANG.COM-
Beberapa tahun terakhir ini, perdagangan orang dengan cara prostitusi online menjadi modus baru bagi pelaku perdagangan orang.

Perdagangan orang terjadi karena berbagai faktor diantaranya adalah kemiskinan dan pendidikan yang rendah, pengetahuan yang minim, keterbatasan informasi mengenai dampak fisik dan psikis dari perdagangan orang dan juga adanya penyalahgunaan media sosial untuk tindakan pelanggaran hukum.

Apalagi dalam situasi pandemi COVID-19, dimana perekonomian semakin sulit, orang sulit mencari pekerjaan dan bahkan ada yang di PHK-kan karena kondisi perekomian sedang terpuruk. Berbagai tempat hiburan pun ditutup dalam rangka untuk mengurangi penularan virus COVID-19 ini.

Namun bagi pelaku perdagangan orang, situasi pandemi COVID-19 memiliki cara baru untuk mendapatkan uang dengan menggunakan media digital melakukan tindakan pelanggaran hukum sebagaimana pada kasus perdagangan orang dengan modus prostitusi online yang terjadi di wilayah Kreo, Larangan Tangerang, dimana Kepolisian Polda Metro Jaya melakukan operasi penggerebekan di salah satu hotel yang diduga pemilik hotel adalah seorang selebritis yang berinisial CA.

Menyoroti persoalan ini, pendiri Yayasan Parinama Astha (ParTha), Rahayu Saraswati Djojohadikusumo medukung Polda Metro Jaya untuk memproses kasus ini dengan baik dan cepat.

Baca Juga :  Bersama Pemda Kab.Kupang Dandim 1604/Kupang Paparkan Rancangan Penanganan Pemulangan Pekerja Migran

“Prostitusi online yang melibatkan anak makin meningkat jumlahnya dan hal ini harus menjadi keprihatinan kita bersama. Kami memberikan dukungan kepada Kepolisian Polda Metro Jaya untuk memproses kasus ini dengan baik dan cepat, dan berharap dapat mengungkapkan lebih banyak lagi kasus perdagangan orang yang selama ini cendrung menggunakan media online untuk iklan atau transaksi,” tutur Saraswati melalui Press Release yang diterima media ini dari Jakarta, 20/3/2021.

Aktivis perempuan dan anak yang akrab dipanggil Sara ini mendorong upaya aparat penegak hukun untuk lebih giat menegakkan hukum sesuai dengan Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (PA) dan juga bisa ditambahkan dengan UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Sara pun menambahkan, “Karena korban masih berusia anak maka kepolisian wajib untuk memberikan pasal tambahan yang memberatkan.”

Baca Juga :  Dengan Bangga Wagub NTT Katakan Presiden Jokowi Sangat Mencintai NTT

Karena hal tersebut menurutnya telah diatur dalam UU mengenai adanya pemberatan hukuman bagi orang yang melakukan tindakan perdangan orang terhadap anak.

Ibu dari dua anak inipun menegaskan bahwa dengan adanya anak-anak yang terlibat menjual diri dalam prostitusi online dengan maupun tanpa mucikari, penting untuk adanya pemberian pemulihan bagi anak-anak tersebut.

“Anak-anak ini harus diberikan proses bimbingan, pemulihan maupun rehabilitasi. Jangan sampai mereka justru kembali lagi nanti menjadi korban maupun pelaku dalam prostitusi online. Proses ini tidak akan mudah maupun singkat maka harus ada dukungan dana restitusi yang dapat dipenuhi melalui sanksi pada pelaku yang memfasilitasi perdagangan anak ini maupun dari pemerintah melalui APBN yang ada di bawah Kementerian Sosial.”

Selain itu Sara juga menyampaikan bahwa perlu adanya pembekuan terhadap aktivitas hotel tersebut.

“Hal ini sangat penting untuk memberikan informasi ke publik bahwa seharusnya hotel bukan untuk menjadi tempat terjadinya transaksi prostitusi,” tutupnya.

Jarrakposkupang.com/Tim
Editor: Mario Langun

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button