Religi

Renungan Harian Katolik, 28 Februari 2021: “SAYANG BERARTI BERKORBAN”

Renungan Harian Katolik, 28 Februari 2021: "SAYANG BERARTI BERKORBAN"

OLEH: Pater Yustinus Genohon Tukan

Renungan Hari Minggu Prapaskah ll, 28 Februari 2021: “SAYANG BERARTI BERKORBAN” (Markus 9: 2-10)

MAUMERE-JARRAKPOSKUPANG.COM-
Renungan kita pada hari Minggu Pra Paskah kedua ini bertema: “Sayang Berarti Berkorban”. Hubungan kita dengan Tuhan tidak selamanya ditandai dengan pemberian karunia-karunia. Ini sama dengan hadiah. Tuhan Allah penuh dengan rahmat dan karunia-Nya dan Ia berikan sesuai yang dikehendaki-Nya.

Misalnya karunia kehidupan, iman, alam lingkungan yang mengelilingi kita, sesama manusia, orang tua, dan lain sebagainya. Namun tentang penebusan dosa, keselamatan, dan hidup abadi, ada perjuangan yang amat besar untuk mendapatkannya. Tuhan yang merintis perjuangan itu dimulai dengan panggilan Abraham dan seterusnya sampai Ia mengutus Putera-Nya sendiri, Yesus Kristus. Keselamatan pada prinsipnya ialah sebuah karunia Allah, tetapi sama pentingnya juga sebagai perjuangan salib yang dilakukan oleh setiap pengikut Kristus yang mengikuti teladan Yesus Kristus.

Pada hari ini Tuhan Allah mengajarkan kita proses perjuangan itu. Ajarannya ialah mengorbankan yang paling disayangi atau yang sangat dicintai. Harga yang dikorbankan itu ialah kemuliaan tertinggi. Yesus sangat dicintai Bapa dan dikorbankan demi keselamatan seluruh ciptaan. Bacaan-bacaan kita pada hari ini mengajarkan kita tentang cara Tuhan mendidik kita dalam tindakan mengorbankan atau merelakan yang sangat disayangi, yang sangat dicintai.

Baca Juga : 

Abraham ingin mengorbankan Isak, anak satu-satunya yang paling ia sayangi demi ketaatan dan kesetiaannya kepada Allah. Putera Allah yang tinggal di surga dalam keabadian, dikorbankan untuk datang ke dunia melalui inkarnasi, demi kasih yang amat besar untuk menyelamatkan semua ciptaan. Putera Allah itu disebut oleh Bapa sendiri pada waktu penampakan di Gunung Tabor: Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Yesus sebagai Anak kesayangan Bapa, membuat penampakan kemuliaan dan kebahagiaan surga di Tabor, namun untuk mencapai itu Ia harus turun dari sana dan mulai menapaki jalan kehidupan penuh dengan perjuangan sampai puncaknya di Gunung Golgota.

Baca Juga :  Hadiri Perayaan Tahbisan Imam,Wagub Nae Soi: Jadilah Duta NTT Di Luar Negeri

Mengapa kita harus mengorbankan yang kita sayangi? Karena demi mencapai tujuan yang terbaik. Pilihan dan keputusan kita untuk mengorbankan yang sangat kita sayangi atau yang terbaik, tentu selalu punya tujuan tertinggi, yaitu kebahagiaan, kebaikan, dan keselamatan. Saya korbankan diri saya ini untuk menjadi seorang imam dan Anda korbankan diri untuk menikah. Banyak dan beraneka contoh yang kita korbankan entah dari pribadi sendiri entah sesama atau barang milik yang sangat kita sayangi, tentu saja ada tujuan mulia, terbaik dan tertinggi yang hendak kita capai. Jika tujuannya hanya keburukan dan kejahatan maka itu merupakan kesia-siaan dan melawan Tuhan.

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa… Bapa di surga, bangkitkanlah selalu di dalam diri kami rasa syukur yang tak pernah berhenti dan semangat berkorban yang berkobar untuk menjalankan cinta kasih-Mu. Bapa kami… Dalam nama…

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button